- Back to Home »
- Tugas Seni
9/06/2014
Definisi Kaligrafi dan Khat
Definisi Kaligrafi dan Khat - Kaligrafi berasal dari
bahasa Yunani. (kallos) berarti indah dan (graphe) yang artinya tulisan. Syaikh
Syamsuddin Al Akhfani (Dalam Irsyad Al Qoshid, 2000) Kaligrafi adalah suatu
ilmu yang memperkenalkan beberapa bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya,
dan beberapa cara merangkainya sehingga menjadi sebuah kalimat tersusun. Atau
apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan
menentukan mana yang tidak perlu ditulis; mengubah ejaan yang perlu diubah dan
menentukan cara bagaimana untuk mengubahnya.
“Kaligrafi Islam adalah seni menulis
huruf Arab dengan indah yang isinya mengenai ayat-ayat Alquran atau Alhadits.” Didin Sirojuddin (2006, 3).
“Khat adalah rangkaian huruf-huruf hijaiyah yang memuat ayat-ayat Alquran atau Alhadits ataupun kalimat hikmah di mana rangkaian huruf-huruf itu dibuat dengan proporsi yang sesuai, baik jarak maupun ketepatan sapuan huruf”. Abdul Rahman (2006).
Kesimpulannya, kaligrafi Islam merupakan seni menulis huruf Arab dengan indah, merangkai susunan huruf-huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara merangkai menjadi sebuah kalimat tersusun, yang isinya mengenai ayat-ayat Alquran atau Alhadits.
Khat Arab dinamakan Jazm karena khat kufi pada awalnya bernama Jazm, sebelum kota Kufah didirikan. Dinamakan Jazm karena dia „juzima‟ atau terpotong dan dilahirkan dari fan Musnad Humeiri. Khat ini juga disebut sebagai khat Muzawwa (kubisme) merupakan tulisan Arab yang asal. Khat ini pernah masyhur di Hirah, Raha dan Nashibain sebelum berdirinya kota Kufah. Tulisan ini yang juga dipanggil khat Hieri (dari perkataan Hirah) diakui sebagai tulisan yang pernah memainkan peranan penting dalam menyalin masalah-masalah keagamaan.
“Khat adalah rangkaian huruf-huruf hijaiyah yang memuat ayat-ayat Alquran atau Alhadits ataupun kalimat hikmah di mana rangkaian huruf-huruf itu dibuat dengan proporsi yang sesuai, baik jarak maupun ketepatan sapuan huruf”. Abdul Rahman (2006).
Kesimpulannya, kaligrafi Islam merupakan seni menulis huruf Arab dengan indah, merangkai susunan huruf-huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara merangkai menjadi sebuah kalimat tersusun, yang isinya mengenai ayat-ayat Alquran atau Alhadits.
Khat Arab dinamakan Jazm karena khat kufi pada awalnya bernama Jazm, sebelum kota Kufah didirikan. Dinamakan Jazm karena dia „juzima‟ atau terpotong dan dilahirkan dari fan Musnad Humeiri. Khat ini juga disebut sebagai khat Muzawwa (kubisme) merupakan tulisan Arab yang asal. Khat ini pernah masyhur di Hirah, Raha dan Nashibain sebelum berdirinya kota Kufah. Tulisan ini yang juga dipanggil khat Hieri (dari perkataan Hirah) diakui sebagai tulisan yang pernah memainkan peranan penting dalam menyalin masalah-masalah keagamaan.
Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Dunia Islam
Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra,
dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi
tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa
bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan
yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya bangsa
Mesir dengan tulisan Hierogliph, bangsa India dengan Devanagari,
bangsa Jepang dengan aksara Kaminomoji, bangsa Indian dengan Azteka,
bangsa Assiria dengan Fonogram/Tulisan Paku, dan pelbagai negeri lain
sudah terlebih dahulu memiliki jenis huruf/aksara. Keadaan ini dapat dipahami
mengingat Bangsa Arab adalah bangsa yang hidupnya nomaden
(berpindah-pindah) yang tidak mementingkan keberadaan sebuah tulisan, sehingga
tradisi lisan (komuniksai dari mulut kemulut) lebih mereka sukai, bahkan
beberapa diantara mereka tampak anti huruf. Tulisan baru dikenal pemakaiannya
pada masa menjelang kedatangan Islam dengan ditandai pemajangan al-Mu’alaqat
(syair-syair masterpiece yang ditempel di dinding Ka’bah).
Pembentukan huruf abjad Arab sehingga menjadi dikenal pada masa-masa awal
Islam memakan waktu berabad-abad. Inskripsi Arab Utara bertarikh 250 M, 328 M
dan 512 M menunjukkan kenyataan tersebut. Dari inskripsi-inskripsi yang ada,
dapat ditelusuri bahwa huruf Arab berasal dari huruf Nabati yaitu huruf
orang-orang Arab Utara yang masih dalam rumpun Smith yang terutama hanya
menampilkan huruf-huruf mati. Dari masyarakat Arab Utara yang mendiami Hirah
dan Anbar tulisan tersebut berkembang pemakaiannya ke wilayah-wilayah selatan
Jazirah Arab.
Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Umayyah
(661-750 M)
Beberapa
ragam kaligrafi awalnya dikembangkan berdasarkan nama kota tempat
dikembangkannya tulisan. Dari berbagai karakter tulisan hanya ada tiga gaya
utama yang berhubungan dengan tulisan yang dikenal di Makkah dan Madinah yaitu Mudawwar
(bundar), Mutsallats (segitiga), dan Ti’im (kembar yang
tersusun dari segitiga dan bundar). Dari tiga inipun hanya dua yang diutamakan yaitu
gaya kursif dan mudah ditulis yang disebut gaya Muqawwar berciri
lembut, lentur dan gaya Mabsut berciri kaku dan terdiri
goresan-goresan tebal (rectilinear). Dua gaya inipun menyebabkan timbulnya
pembentukan sejumlah gaya lain lagi diantaranya Mail (miring), Masyq
(membesar) dan Naskh (inskriptif). Gaya Masyq dan Naskh
terus berkembang, sedangkan Mail lambat laun ditinggalkan karena kalah
oleh perkembangan Kufi. Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa
variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut
huruf-huruf maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya Kufi Murabba’
(lurus-lurus), Muwarraq (berdekorasi daun), Mudhaffar
(dianyam), Mutarabith Mu’aqqad (terlilit berkaitan) dan lainnya.
Demikian pula gaya kursif mengalami perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan
gaya Kufi, baik dalam hal keragaman gaya baru maupun penggunannya, dalam hal
ini penyalinan al-Qur’an, kitab-kitab agama, surat-menyurat dan lainnya.
Diantara kaligrafer Bani Umayyah yang termasyhur mengembangkan tulisan
kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat tulisan yaitu Thumar,
Jalil, Nisf, dan Tsuluts. Keempat tulisan ini saling melengkapi
antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih sempurna. Tulisan
Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar pada tumar-tumar
(lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang tidak terpotong. Tulisan ini
digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah kepada amir-amir dan
penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring digunakan
oleh masyarakat luas.
Sejarah
perkembangan periode ini tidak begitu banyak terungkap oleh karena khilafah
pelanjutnya yaitu Bani Abbasiyah telah menghancurkan sebagian besar
peninggalan-peninggalannya demi kepentingan politis. Hanya ada beberapa contoh
tulisan yang tersisa seperti prasasti pembangunan Dam yang dibangun Mu’awiyah,
tulisan di Qubbah Ash-Shakhrah, inskripsi tulisan Kufi pada sebuah kolam yang
dibangun Khalifah Hisyam dan lain-lain.
Perkembangan Kaligrafi Periode Bani
Abbasiyah (750-1258 M)
Gaya dan
teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini semakin
banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak ibn ‘Ajlan yang hidup pada
masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M), dan Ishaq ibn Muhammad pada
masa Khalifah al-Manshur (754-775 M) dan al-Mahdi (775-786 M). Ishaq memberi
kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan
mempopulerkan pemakaiannya. Kemudian kaligrafer lain yaitu Abu Yusuf as-Sijzi
yang belajar Jalil kepada Ishaq. Yusuf berhasil menciptakan huruf yang lebih
halus dari sebelumnya.
Adapun
kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu
Muqlah yang pada masa mudanya belajar kaligrafi kepada Al-Ahwal al-Muharrir.
Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya
yang spektakuler tentang rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri
dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu : titik,
huruf alif, dan lingkaran. Menurutnya setiap huruf harus dibuat
berdasarkan ketentuan ini dan disebut al-Khat al-Mansub (tulisan yang
berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam
as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’
yang merupakan tulisan kursif. Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer
dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi.
Usaha Ibnu
Muqlah pun dilanjutkan oleh murid-muridnya yang terkenal diantaranya Muhammad
ibn As-Simsimani dan Muhammad ibn Asad. Dari dua muridnya ini kemudian lahir
kaligrafer bernama Ibnu Bawwab. Ibnu Bawwab mengembangkan lagi rumus yang sudah
dirintis oleh Ibnu Muqlah yang dikenal dengan Al-Mansub Al-Faiq (huruf
bersandar yang indah). Ia mempunyai perhatian besar terhadap perbaikan khat
Naskhi dan Muhaqqaq secara radikal. Namun karya-karyanya hanya sedikit yang
tersisa hingga sekarang yaitu sebuah al-Qur’an dan fragmen duniawi saja.
Pada masa
berikutnya muncul Yaqut al-Musta’simi yang memperkenalkan metode baru dalam penulisan
kaligrafi secara lebih lembut dan halus lagi terhadap enam gaya pokok yang
masyhur itu. Yaqut adalah kaligrafer besar di masa akhir Daulah Abbasiyah
hingga runtuhnya dinasti ini pada tahun 1258 M karena serbuan tentara Mongol.
Pemakaian kaligrafi
pada masa Daulah Abbasiyah menunjukkan keberagaman yang sangat nyata, jauh bila
dibandingkan dengan masa Umayyah. Para kaligrafer Daulah Abbasiyah sangat
ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang
tengah berkembang. Karya-karya kaligrafi lebih dominan dipakai sebagai ornamen
dan arsitektur oleh Bani Abbasiyah daripada Bani Umayyah yang hanya mendominasi
unsur ornamen floral dan geometrik yang mendapat pengaruh kebudayaan Hellenisme
dan Sasania.
Perkembangan Kaligrafi Periode Lanjut
Selain di
kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di
sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat dari
negeri Islam (al-Maghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab
sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini
memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya kaligrafi yang berkembang
dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem
penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima,
sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.
Sementara bagi kawasan Masyriq, setelah
kehancuran Daulah Abbasiyah oleh tentara Mongol dibawah Jengis Khan dan
puteranya Hulagu Khan, perkembangan kaligrafi dapat segera bangkit kembali
tidak kurang dari setengah abad. Oleh Ghazan cucu Hulagu Khan yang telah
memeluk agama Islam, tradisi kesenian pun dibangun kembali. Penggantinya yaitu
Uljaytu juga meneruskan usaha Ghazan, ia
memberikan
dorongan kepada kaum terpelajar dan seniman untuk berkarya. Seni kaligrafi dan
hiasan al-Qur’an pun mencapai puncaknya. Dinasti ini memiliki beberapa
kaligrafer yang dibimbing Yaqut seperti Ahmad al-Suhrawardi yang menyalin
al-Quran dalam gaya Muhaqqaq tahun 1304, Mubarak Shah al-Qutb, Sayyid Haydar,
Mubarak Shah al-Suyufi dan lain-lain.
Dinasti
Il-Khan yang bertahan sampai akhir abad ke-14 digantikan oleh Dinasti Timuriyah
yang didirikan Timur Leng. Meskipun dikenal sebagai pembinasa besar, namun
setelah ia masuk Islam kaum terpelajar dan seniman mendapat perhatian yang
istimewa. Ia mempunyai perhatian besar terhadap kaligrafi dan memerintahkan
penyalinan al-Qur’an. Hal ini dilanjutkan oleh puteranya Shah Rukh. Diantara
ahli kaligrafi pada masa ini adalah Muhammad al-Tughra’I yang menyalin al-Qur’an
bertarih 1408 daam gaya Muhaqqaq emas. Dan putera Shah Rukh sendiri yang
bernama Ibrahim Sulthan menjadi salah seorang kaligrafer terkemuka.
Dinasti
Timuriyah mengalami kemunduran menjelang abad ke-15 dan segera digantikan oleh
Dinasti Safawiyah yang bertahan di Persia dan Irak sampai tahun 1736.
pendirinya Shah Ismail dan penggantinya Shah Tahmasp mendorong perumusan dan
pengembangan gaya kaligrafi baru yang disebut Ta’liq yang sekarang dikenal khat
Farisi. Gaya baru yang dikembangkan dari Ta’liq adalah Nasta’liq yang mendapat
pengaruh dari Naskhi. Tulisan Nasta’liq ahkirnya menggeser Naskhi dan menjadi
tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin sastra Persia.
Di Kawasan
India dan Afganistan berkembang kaligrafi yang lebih bernuansa tradisional.
Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal
memanjang yang kontras dengan garis vertikalnya yang ramping. Sedangkan di
kawasan Cina memperlihatkan corak yang khas lagi, dipengaruhi tarikan kuas
penulisan huruf Cina yang lazim disebut gaya Shini. Gaya ini mendapat
pengaruh dari tulisan yang berkembang di India dan Afganistan. Tulisan Shini
biasa ditorehkan di keramik dan tembikar.
Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Arab
diperintah oeh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Turki. Perkembangan kaligrafi
sejak masa dinasti ini hingga perkembangan terakhirnya selalu terkait dengan
dinasti Utsmaniyah Turki. Perkembangan kaligrafi pada masa Utsmaniyah ini
memperlihatkan gairah yang luar biasa. Kecintaan kaligrafi tidak hanya pada
kalangan terpelajar dan seniman tetapi juga beberapa sultan bahkan dikenal juga
sebagai kaligrafer. Mereka tidak segan-segan untuk merekrut ahli-ahli dari
negeri musuh seperti Persia, maka gaya Farisi pun dikembangkan oleh dinasti
ini. Adapun kaligrafer yang dipandang sebagai kaligrafer besar pada masa
dinasti ini adalah Syaikh Hamdullah al-Amasi yang melahirkan beberapa murid,
salah satunya adalah Hafidz Usman. Perkembangan kaligrafi Turki sejak awal
pemerintahan Utsmaniyah melahirkan sejumlah gaya baru yang luar biasa indahnya,
berpatokan
dengan
gaya kaligrafi yang dikembangkan di Baghdad jauh sebelumnya. Yang paling
penting adalah Syikastah, Syikastah-amiz, Diwani, dan Diwani Jali. Syikastah (bentuk
patah) adalah gaya yang dikembangkan dari Ta’liq an Nasta’liq awal. Gaya ini
biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan praktis. Gaya Diwani pun pada
mulanya adalah penggayaan dari Ta’liq. Tulisan ini dikembangkan pada akhir abad
ke-15 oleh Ibrahim Munif, yang kemudian disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah.
Gaya ini benar-benar kursif, dengan garis yang dominan melengkung dan
bersusun-susun. Diwani kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan gaya baru yang
lebih monumental disebut Diwani Jali, yang juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan). Gaya ini
sepenuhnya dikembangkan oleh Hafidz Usman dan para muridnya.
Tokoh Kaligrafi Islam
Berkembangnya kaligrafi hingga menjadi kesenian Islam yang mendunia tidak terlepas dari kiprah kaligrafer-kaligrafer handal di masa lalu. Merekalah tokoh-tokoh yang mendedikasikan seumur hidupnya dalam mempelajari dan mengajarkan seni kaligrafi Islam di dunia Islam. Sebagian karya-karya mereka masih dapat kita jumpai dalam berbagai literatur dan referensi kaligrafi Arab. Peran serta mereka dalam perkembangan dan pelestarian seni kaligrafi Islam tak dapat dipisahkan dari sejarah kaligrafi Islam itu sendiri. Kontribusi nyata dari perjuangan mereka masih dapat kita nikmati hingga saat ini.Sejumlah nama terus dikagumi dan ikut mendunia bersama kaligrafi yang mereka lahirkan. Diantara seniman-seniman aksara itu adalah Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, Yaqut Al musta’simi, Hamdullah (Ibn Syaikh), Hafidh Ustman, Musthafa Al- Raqim, Hamid Al-Amidi, dan Hasyim Muhammad Al-Bagdadi.
Ibnu Muqlah
Kaligrafier yang lahir pada 887 M ini merupakan seorang wazir (menteri) pada masa Khilafah Abbasiyah. Kemampuan kaligrafinya ia dapatkan atas bimbingan Al-Ahwal Al-Muharrir. Karena kemahirannya dalam menulis kaligrafi, Ibnu Muqlah dikenal sebagai “Imam Al-Khaththathin” atau “Bapak para Kaligrafer.”
Salah satu keberhasilan Ibnu Muqlah dalam kaligrafi adalah dalam mengangkat gaya tulis Naskhi menjadi Khath Kufi, selain juga menekuni Khath Tsulus. Sumbangan Ibnu Muqlah dalam dunia kaligrafi bukan pada penemuan gaya melainkan dalam hal pemakaian kaidah-kaidah sistematis, terutama untuk Khath Naskhi.
Ibnu Bawwab
Merupakan putra seorang penjaga pintu istana di Baghdad yang menghafal Alquran dan menuliskanya dalam 64 eksemplar. Salah satunya ia tulis dengan gaya Raihani dan disimpan di sebuah masjid di Istambul. Dialah penemu dan pengembang gaya khath Raihani dan Muhaqqah, serta salah satu penerus gaya Naskhi yang diusung Ibnu Muqlah
Seorang kepala perpustakaan Al-Mistan Syiriyah di Baghdad yang memiliki julukan Jamaluddin dan akrab disapa Abu Durra atau Abu Al-majid. Kaligrafer yang juga penyair ini mengembangkan metode baru penulisan huruf arab serta memelopori penulisan menggunakan bambu yang dipotong miring sebagai pena.
Yaqut dikenal melalui filsafatnya tentang kaligrafi, “Al-khaththu handasatun ruhaniyyatun dhaharat bi alatin jasmaniyyatin (Kaligrafi adalah geometri spiritual yang diekspresikan melalui alat jasmani).” Berkat kelihaiannya, gaya Khath Tsuluts berkembang menjadi bentuk ornamental yang dekoratif.
Ibnu Syekh (Syekh Hamdullah Al-Amasi)
Merupakan salah satu maestro kaligrafi terbesar sepanjang sejarah Utsmani dan menjadi kiblat para kaligrafier-kaligrafier pada masa itu. Pada zamannya, Sultan Bayazid II (Sultan Utsmani yang memerintah pada 1481-1512 M) belajar kaligrafi padanya. Dan karya-karya yang ditinggalkannya menjadi ‘rumus’ bagi pengembangan penulisan khath selanjutnya.
Hafiz Ustman (Ustman ibnu Ali)
Berjuluk Al-Hafiz karena telah menghafal Alquran sejak masih muda. Kepandaian kaligrafer yang menekuni gaya Khath Tsuluts dan Naskhi ini tampak dalam karyanya yang berjudul Hiliyah (sebuah deskripsi tentang Nabi Muhammad). Selain itu, ia berhasil menulis 25 mushaf Alquran yang inskripsinya tersebar di seluruh Istanbul, Turki.
Musthafa Al-Raqim
Bakat menulisnya telah nampak sejak ia masih kecil. Ia mempelajari Khath Naskhi dan Tsuluts dari kakeknya dan menjadi penulis Kesultanan Utsmani pada masa pemerintahan Salim III. Kemudian ia diangkat sebagai Kepala Departemen Seni Lukis Kesultanan.
Selain itu, Al-Raqim juga menjadi guru Sultan Salim II dan Mahmud II. Kepandaiannya membuat seorang kaligrafer menulis tentangnya, “Ketika orang Barat bangga dengan Raphael dan Michaelangelo sebagai pelukis, kita seharusnya bangga dengan Al-Raqim sebagai kaligrafer yang jenius.”
Kaligrafer yang menetap di Istambul sejak usia 15 tahun dan belajar tentang hukum-hukum kaligrafi dan cabang seni lainnya. Dialah penulis kaligrafi pada dinding-dinding beberapa gedung terkenal dan penting di Istambul.
Enam bulan sebelum ia wafat, Pusat Penelitian Sejarah dan Seni di Turki mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul “Hamid Al-Khattath” atau “”Hamid Sang Kaligrafer” yang tersebar di beberapa negara termasuk Mesir. Selain menjadi inspirator bagi kaligrafer setelahnya, Hamid Al-Amidi juga pernah memberi ijazah kepada beberapa khattath ternama. Diantaranya adalah dua ijazah kepada Hasyim Muhammad Al-Baghdadi (pada 1950 dan 1952).
Hasyim Muhammad Al-Bagdadi
Dilahirkan di Baghdad pada 1917, Hasyim telah mempelajari kaligrafi sejak usia remaja. Usai memperoleh gelar Diploma dari Mulla ‘Ali Al-Fadli pada tahun 1943, ia meneruskan studinya di Royal Institute of Calligraphy Kairo dan lulus pada 1944. Di tahun yang sama, ia memperoleh ijazah dari dua kaligrafer terkenal, Sayyid Ibrahim dan Muhammad Husni.
Seorang kaligrafer ternama lainnya, Hamid Al-Amidi, pada 1952 mengukuhkan Hasyim Muhammad Al-Baghdadi sebagai penulis khath terbaik di dunia Islam. Hasyim yang pernah menerbitkan buku tentang gaya penulisan Al-Riq’ah pada tahun 1946 juga dikenal sebagai penulis khath terbaik dalam gaya Tsuluts.
Tahun 1960, Hasyim dinobatkan sebagai pen-tashih kaligrafi Arab di Institute of Fine Art di Baghdad, lalu sebagai Ketua Bahgian Dekorasi Islam dan kaligrafi Arab. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 1973, setahun setelah menerbitkan sebuah buku koleksi khath miliknya berjudul “Qawaidh Khatthil Araby“” (Kaidah Penulisan Khath Arab)”. Hingga kini buku tersebut merupakan kitab panduan kaligrafi Arab yang paling fenomenal dan dijadikan referensi bagi pelajar kaligrafi Arab di dunia Islam.
Jenis-jenis Kaligrafi dan Khat
Jenis-jenis Khat
Dalam perkembangannya muncul ratusan jenis khat kaligrafi, tidak semua khat tersebut bertahan hingga saat ini. Terdapat delapan jenis khat kaligrafi yang populer yang dikenal oleh para pecinta seni kaligrafi di Indonesia, yaitu;
Dalam perkembangannya muncul ratusan jenis khat kaligrafi, tidak semua khat tersebut bertahan hingga saat ini. Terdapat delapan jenis khat kaligrafi yang populer yang dikenal oleh para pecinta seni kaligrafi di Indonesia, yaitu;
- Gaya Naskhi - Kaligrafi gaya Naskhi paling sering dipakai umat Islam, baik untuk menulis naskah keagamaan maupun tulisan sehari-hari. Gaya Naskhi termasuk gaya penulisan kaligrafi tertua. Sejak kaidah penulisannya dirumuskan secara sistematis oleh Ibnu Muqlah pada abad ke-10, gaya kaligrafi ini sangat populer digunakan untuk menulis mushaf Alquran sampai sekarang. Karakter hurufnya sederhana, nyaris tanpa hiasan tambahan, sehingga mudah ditulis dan dibaca. [Didin Sirojuddin (2006)]
- Kaligrafi gaya Farisi - Seperti tampak dari namanya, kaligrafi gaya Farisi dikembangkan oleh orang Persia dan menjadi huruf resmi bangsa ini sejak masa Dinasti Safawi sampai sekarang. Kaligrafi Farisi sangat mengutamakan unsur garis, ditulis tanpa harakat, dan kepiawaian penulisnya ditentukan oleh kelincahannya mempermainkan tebal-tipis huruf dalam 'takaran' yang tepat. Gaya ini banyak digunakan sebagai dekorasi eksterior masjid di Iran, yang biasanya dipadu dengan warna-warni Arabes.
- Gaya Tsuluts - Kaligrafi ini merupakan seorang menteri (wazir) di masa Kekhalifahan Abbasiyah. Tulisan kaligrafi gaya Tsuluts sangat ornamental, dengan banyak hiasan tambahan dan mudah dibentuk dalam komposisi tertentu untuk memenuhi ruang tulisan yang tersedia. Karya kaligrafi yang menggunakan gaya Tsuluts bisa ditulis dalam bentuk kurva, dengan kepala meruncing dan terkadang ditulis dengan gaya sambung dan interseksi yang kuat. Karena keindahan dan keluwesannya ini, gaya Tsuluts banyak digunakan sebagai ornamen arsitektur masjid, sampul buku, dan dekorasi interior.
- Gaya Riq’ah - Kaligrafi ini merupakan hasil pengembangan kaligrafi gaya Naskhi dan Tsuluts. Sebagaimana halnya dengan tulisan gaya Naskhi yang dipakai dalam tulisan sehari-hari. Riq’ah dikembangkan oleh kaligrafer Daulah Utsmaniyah, lazim pula digunakan untuk tulisan tangan biasa atau untuk kepentingan praktis lainnya. Karakter hurufnya sangat sederhana, tanpa harakat, sehingga memungkinkan untuk ditulis cepat.
- Gaya kaligrafi Diwani - Kaligrafi ini dikembangkan oleh kaligrafer Ibrahim Munif. Kemudian, disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah dan kaligrafer Daulah Usmani di Turki akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.
- Gaya Diwani Jali - Kaligrafi ini merupakan pengembangan gaya Diwani. Gaya penulisan kaligrafi ini diperkenalkan oleh Hafiz Usman, seorang kaligrafer terkemuka Daulah Usmani di Turki. Anatomi huruf Diwani Jali pada dasarnya mirip Diwani, namun jauh lebih ornamental, padat, dan terkadang bertumpuk-tumpuk. Berbeda dengan Diwani yang tidak berharakat, Diwani Jali sebaliknya sangat melimpah. Harakat yang melimpah ini lebih ditujukan untuk keperluan dekoratif dan tidak seluruhnya berfungsi sebagai tanda baca. Karenanya, gaya ini sulit dibaca secara selintas. Biasanya, model ini digunakan untuk aplikasi yang tidak fungsional, seperti dekorasi interior masjid atau benda hias.
- Ijazah (Raihani) - Tulisan kaligrafi gaya Ijazah (Raihani) merupakan perpaduan antara gaya Tsuluts dan Naskhi, yang dikembangkan oleh para kaligrafer Daulah Usmani. Gaya ini lazim digunakan untuk penulisan ijazah dari seorang guru kaligrafi kepada muridnya. Karakter hurufnya seperti Tsuluts, tetapi lebih sederhana, sedikit hiasan tambahan, dan tidak lazim ditulis secara bertumpuk (murakkab).
- Gaya Kufi - Kaligrafi gaya kufi, penulisannya banyak digunakan untuk penyalinan Alquran periode awal. Karena itu, gaya Kufi ini adalah model penulisan paling tua di antara semua gaya kaligrafi. Gaya ini pertama kali berkembang di Kota Kufah, Irak, yang merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam sejak abad ke-7 M.
Kemajuan kaligrafi yang paling pesat terjadi dalam kebudayaan Islam. Ini terutama berkat perkembangan pelajaran agama Islam melalui kitab suci al-Qur’an. Beberapa negara yang menjadi pusat kaligrafi Islam adalah Arab, Persia, Irak, Turki, India, dan Afrika Utara. Dari negara-negara itu berhasil tercipta berbagai bentuk dan gaya tulisan kaligrafi dengan aneka jenis dan variasi. Suatu hal yang tidak pernah dijumpai dalam sistem menulis atau melukis mana pun.
Tiongkok
Seni kaligrafi Tiongkok berasal dari gambar dan muncul sekitar tiga ribuan tahun lalu. Seluruh huruf Hanzhi memang berawal dari gambar. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan tulang binatang dan batu-batu berukiran tangan di dalam goa. Hasil kesenian yang dipahat di batu, tulang, dan bambu rupanya telah dibuat oleh nenek moyang mereka dulu.
Seiring perjalanan waktu, seni kaligrafi berganti menjadi tulisan. Dari satu tulisan itu bisa dibuat berbagai macam bentuk hingga ratusan seni tulisan. Kaligrafi Tiongkok umumnya berbentuk syair, puisi, pantun, kata-kata mutiara, atau pepatah yang mengandung makna kehidupan.
Umumnya lukisan kaligrafi merupakan kutipan dari syair-syair pujangga terkenal zaman Dinasti Tang. Saat itu memang kesenian dan kebudayaan Tiongkok mencapai masa puncaknya. Salah satu penyair tersohor yang banyak dirujuk adalah Li Bai.
Selama berabad-abad banyak berkembang gaya kaligrafi Tiongkok, misalnya lishu, zhuanshu, kaeshu, shingshu, dan chaoshu. Masing-masing mempunyai perbedaan, tergantung lekuk dan tarikan hurufnya.
Lishu adalah jenis kaligrafi yang hurufnya kotak-kotak, kaeshu lebih rapi, shingshu cara menulisnya lebih cepat, dan chaoshu hurufnya agak sedikit tidak beraturan. Di Indonesia penggemar dan pelukis kaligrafi Tiongkok mulai banyak. Makanya di berbagai daerah, tempat-tempat kursus kaligrafi hampir selalu dipenuhi peminat.
Budaya memang tidak mengenal batas negara. Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang beradab. Bangsa Indonesia, Tiongkok, dan India memiliki budaya yang sangat tua. Maka sah-sah saja jika kaligrafi Tiongkok berkembang di Indonesia.
Untuk membuat lukisan Tiongkok maupun kaligrafi, biasanya digunakan kertas Shien Tze. Sedangkan pewarnaannya menggunakan warna cat air dari Jepang dan Korea yang pada awalnya menggunakan warna-warna asli dari Tiongkok.
Kaligrafi biasanya terdiri atas dua jenis, yaitu ditulis di atas kertas dan diukir menggunakan emas murni di atas papan hitam. Emas murni yang digunakan sebagai ukiran di papan hitam ini ada dua jenis, yaitu tinta emas dan kertas emas tipis.
Hasil karya yang menggunakan kertas emas sangat indah berkilauan. Sinarnya jauh lebih terang daripada yang menggunakan tinta emas. Harga kaligrafi emas ini dipatok mengikuti harga pasaran emas.
Kaligrafi yang paling awal dibuat dengan alat tulis tradisional Tiongkok, antara lain mopit, bak, dan kertas. Dalam sejarah Tiongkok terdapat banyak kaligraf terkenal. Wang Xizhi yang hidup pada masa abad ke-4 Masehi adalah salah satu di antaranya. Di Tiongkok karya kaligrafi hasil tokoh terkemuka sering diukir di atas batu gunung atau tugu di objek wisata yang terkenal, khususnya gunung-gunung yang indah pemandangannya.
Jepang
Dalam bahasa Jepang kaligrafi disebut shodo. Pengetahuan akan seni kaligrafi adalah salah satu langkah penting dalam memahami budaya Jepang. Kaligrafi dianggap sebuah kombinasi antara skill dan imajinasi seseorang yang telah belajar secara intensif penggunaan kombinasi garis-garis.
Kaligrafi Jepang berupaya untuk membawa suatu kata ke dalam kehidupan. Gaya kaligrafi Jepang sangat individualistik, berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Karakter-karakter dalam sebuah karya seni kaligrafi hanya boleh berupa satu kali coretan. Tidak boleh ada pengulangan, penambahan atau finishing di dalam karya tersebut.
Sejarah kaligrafi Jepang berhubungan erat dengan kebudayaan Tiongkok. Kemungkinan kaligrafi dibawa ke Jepang sekitar abad ke-6, bersamaan dengan awal mulanya sistem menulis Tiongkok (kanji) masuk ke Jepang.
Di masa Heian, orang Jepang sudah menunjukkan pencapaian yang cukup luar biasa di dalam bentuk seni yang baru itu. Pelopornya antara lain pendeta Buddha, Kuukai (774 – 835), Kaisar Saga (786 – 842), dan petugas kekaisaran Tachibana no Hayanari (778 – 842).
Ada 5 script dasar di dalam kaligrafi Jepang, yakni tensho (seal style), reisho (clerical style), kaisho (block style), gyosho (semi-cursive style), dan sosho (cursive style, atau disebut ‘tulisan rumput’). Kelima style muncul sebelum akhir abad ke-4.
Kemudian orang Jepang mengembangkan karakter kana pada abad ke-8. Karakter-karakter itu melambangkan bunyi, jadi bertolak belakang dengan karakter yang dipakai sebagai ideographik (kanji). Tiga jenis kana yang dikembangkan itu adalah manyogana, hiragana, dan katakana. Di antara ketiganya. hiragana lebih berkembang ke dalam script yang indah, yang menjadi gaya kaligrafi khas Jepang sekarang.
Tiongkok-Arab
Uniknya ada kaligrafi yang merupakan gabungan seni Tiongkok-Arab. Kaligrafi ini dibuat oleh kaligraf asal Tiongkok, Haji Noor Deen . Kaligrafi Arab yang bergaya Tiongkok ini disebut khat ash-shini.
Seniman ini belajar seni dan kaligrafi Arab pada perguruan tinggi Islam di Zhenzhou. Dia juga meneliti kebudayaan Islam di Akademi Sains Henan. Pada 1997 Haji Noor Deen meraih penghargaan dari Mesir di bidang kaligrafi dan diterima sebagai anggota perkumpulan kaligrafi Mesir (Association of Egyptian Calligraphy).
Kaligrafi dalam bahasa kita sering diasosiasikan dengan tulisan Arab. Padahal tidak semua tulisan tangan yang indah, bisa disebut dengan kaligrafi. Mungkin karena bahasa Indonesia tidak mempunyai keaksaraan yang kuat, maka tulisan indah dalam bahasa Indonesia hampir tidak ada.
Sejak ditemukan kertas sebagai media, kaligrafi berkembang pesat. Di Tiongkok misalnya, budaya menulis kaligrafi menjadi ciri khas kaum terpelajar. Begitu juga di Jepang dan Eropa. Kaligrafi mengiringi kecemerlangan ilmu pengetahuan saat itu. Dengan bermodalkan sebuah kuas dan tinta, para sarjana di Tiongkok menorehkan puisi ke selembar kertas. Catatan-catatan penting di zaman Renaissance juga ditorehkan di dalam sebuah buku.
Sayangnya, perkembangan tulis-menulis kemudian bergeser. Sejak memasuki era digital –dengan diperkenalkannya sistem operasi komputer– seolah-olah kaligrafi sudah menjadi barang jadul nan usang. Ukuran huruf yang indah dengan komposisi yang sempurna bisa ditorehkan oleh sebuah software. Kemudian hasil output-nya dicetak menggunakan printer.

Post a Comment